32. AL KHOBIIR (Dzat Yang Maha Mengetahui) Setelah Allah Ta’ala menyiapkan dan memberikan segala sesuatu kepada hamba-hambaNya, maka Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala perbuatan hamba-hambaNya, apakah hamba-hambaNya bersyukur atau kufur terhadap pemberian-pemberian-Nya tersebut. Dan Allah Ta’ala telah menugaskan para Malaikatnya untuk mencatat semua perbuatan hamba-hambaNya dan sebagai saksi kelak diakhirat. Sesuai surat Qaaf (50) : 16 – 21 16. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, 17. (Yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. 18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. 19. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. 20. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. 21. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi. Semua amal perbuatan manusia diketahui oleh Allah Ta'ala dengan pengetahuan-Nya sendiri ditambah dengan para Malaikat-Nya yang ditugaskan untuk mencatat semua perbuatan hamba-hambaNya secara detail. Sehingga tidak ada satupun yang tertinggal walaupun hanya sebesar zarrah. Apakah itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Dan dihari kiamat kelak semua itu akan dibuka (diperhitungkan). Oleh sebab itu semua manusia pada hari kiamat nanti tidak bisa mengelak atau lari dari pertanggung jawabannya atas segala perbuatannya selama hidup dimuka bumi. Sebetulnya kalau hanya untuk sekedar mengetahui Allah tidak butuh malaikat, karena Dia “Al Alim (Dzat Yang Maha Mengetahui)”. Akan tetapi agar kiranya tidak ada lagi manusia yang dapat mengelak dan membantah nanti dipadang mahsyar atas segala apapun yang telah dilakukannya selama hidup didunia. Jadi disamping catatan-catatan tersebut disertai dengan pengetahuan Allah, dilengkapi juga dengan saksi-saksi yang lain, sehingga pada hari kiamat nanti manusia hanya bisa menerima saja apapun keputusan Allah yang diberikan kepadanya. Syurga atau neraka tanpa dapat membela diri sedikitpun. Sebetulnya sudah dari sejak dahulu kita telah tahu bahwa ada dua malaikat yang mencatat perbuatan kita, yaitu Roqib dan Atit. Akan tetapi kita tidak bisa merasakan keberadaan malaikat tersebut dan tidak merasakan bahwa mereka diperintah oleh Allah serta tidak pernah sedikitpun merasa khawatir bahwa catatan ini akan kita pertanggung jawabkan dihari akhir, sehingga kita cenderung tidak takut untuk melakukan kejahatan. Padahal kedua malaikat ini mencatat apa-apa yang telah Allah berikan. Misal si Fulan diberi uang sekian, digunakan untuk kebaikan sekian dan untuk kejelekan sekian, semua akan dicatat secara cermat dan tidak ada yang terlewatkan walau satu zarahpun. Dan tidak ada satupun yang dirubah karena malaikat sangat patuh dan taat kepada Allah. Dalam hidup ini ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia sehingga akan memberatkan hisabnya. Yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Kedua nikmat inilah hisabnya paling berat, karena jarang disyukuri manusia. Sesuai dengan hadits Rasulullah : “ada dua nikmat yang jarang disyukuri manusia, yaitu sehat dan waktu luang”. Waktu luang ini ada dua macam. Pertama, memang Allah yang memberikan waktu luang dan yang kedua karena manusia itu sendiri yang malas atau tidak mau berusaha sehingga waktunya menjadi luang. Jadi yang dilihat adalah dari kondisi usahanya. Artinya apabila kita sudah berniat, berusaha dan berdo’a tetapi masih belum bisa mendapatkan pekerjaan, inilah waktu luang yang Allah berikan. Setiap saat kita selalu menerima rahman dari Allah, baik mulut, kaki, tangan, mata, dan lain-lain, kita pergunakan untuk apa nikmat-nikmat tersebut, semua akan dicatat oleh malaikat Roqib dan Atit. Jadi apapun yang Allah berikan kepada kita akan dipertanggung jawabkan. Allah telah menugaskan kepada malaikatNya untuk mencatat segala pemberianNya kepada manusia, apakah bersyukur atau kufur. Oleh sebab itu apapun kenikmatan dan karunia yang Allah berikan hendaknya kita syukuri dan kelola sesuai dengan apa yang telah disyareatkan oleh Allah dan rasulNya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau bersyukur, karena ia mencari tuhan untuk kebutuhan nafsunya. Sehingga apabila keinginan nafsunya telah terkabul maka Allah tidak lagi nampak. Padahal syarat pertama syukur adalah mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah (Karena pemberian Allah). Kalau kita faham bahwa Allah itu Al Khobir, yang setiap saat ada Malaikat yang mencatat segala perbuatan kita, tentu kita akan berhati-hati dalam berbuat dan berbicara. Karena Allah sedikitpun tidak bisa ditipu. Semua perbuatan dan perkataan kita akan dibuka nanti dipadang mahsyar secara detil. Kapan waktu melakukan, dimana tempatnya serta saksi-saksi. Sehingga kita tidak bisa mengelak walau sedikitpun. Oleh sebab itu jangan sekali-kali kita sembunyi dari pandanagn manusia tetapi sembunyilah dari pandangan Allah. Dan penilaian Allah inilah yang akan kita pertangung jawabkan nanti diakhirat. Maka dari itu cukuplah penilaian Allah dalam hidup ini. Karena tidak ada guna seluruh manusia mengatakan kita benar jika Allah mengatakan kita salah. Dalam hal ini sebetulnya Allah telah mengajari kita pada saat bulan ramadhan. Apabila kita tidak berpuasa bisa menipu manusia seolah-olah puasa (pura-pura lesu, lapar, dan lain sebagainya) akan tetapi didalam hati kita merasakan dan meyakini bahwa Allah tahu bahwa kita tidak puasa. Inilah hubungan langsung kepada Allah. Inilah kejujuran yang sebenarnya yaitu kejujuran dalam beragama. Akan tetapi kenapa pelajaran ini tidak kita pakai diluar Ramadhan? A. Sisi Tafakkurnya Apabila kita melakukan sebuah dosa, seberapa banyak kita bersembunyi dari pandangan manusia, dan seberapa banyak kita bersembunyi dari pandangan Allah Ta’ala? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu merasakan keberadaan Malaikat-MalaikatMu didalam mencatat amal perbuatan kami, sehingga kami takut melakukan dosa dan senang beramal ibadah dan beramal sholeh dimanapun kami berada. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala mengetahui apapun perbuatan yang dia lakukan. Dimanapun dia berada, baik itu sendirian atau ditengah-tengah khalayak umum, dia yakin Allah Ta'ala pasti mengetahuinya. Dan dia sangat yakin bahwa para Malaikat yang ditugaskan Allah Ta'ala akan selalu menyertainya untuk mencatat semua amal perbuatannya. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang beriman, dia selalu bersembunyi dari pengetahuan Allah Ta'ala. Sehingga dia selalu menjaga hatinya agar selalu bersih dan menjaga perbuatan serta perkataannya dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta'ala. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, dia selalu bersembunyi dari penglihatan manusia. Apabila ada manusia yang melihatnya dia berpura-pura sebagai orang yang baik, dan jika tidak ada manusia yang melihatnya dia berani melakukan kedurhakaan-kedurhakaan kepada Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat takut untuk melakukan dosa. Walaupun tidak ada manusia yang mengetahui, tetapi dia yakin Allah Ta'ala pasti mengetahui dan para Malaikat yang selalu mengikutinya juga mengetahui. Orang-orang yang bertaqwa sangat takut memiliki catatan amal yang buruk dan dia sangat menginginkan catatan amal yang baik. Sehingga semaksimal mungkin dia melakukan amal dan meninggalkan dosa. Catatan amal orang-orang yang durhaka tersimpan dalam Sijjin, sedangkan catatan amal orang-orang yang berbakti tersimpan dalam ‘Illiyyin. Dan di padang mahsyar nanti akan diberikan kepada pemiliknya masing-masing. Sesuai Surat Al Al Muthaffifin (83) : 7 – 28 7. Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. 8. Tahukah kamu apakah sijjin itu? 9. (Ialah) kitab yang bertulis. 10. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, 11. (Yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. 12. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, 13. Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu" 14. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. 15. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. 16. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. 17. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): "Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan". 18. Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam 'Illiyyin. 19. Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? 20. (Yaitu) kitab yang bertulis, 21. Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah). 22. Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (syurga), 23. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. 24. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. 25. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), 26. Laknya adalah kesturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. 27. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, 28. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Dan Surat Al Israa’ (17) : 13, 14 13. Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. 14. "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu". Dan Surat Al Kahfi (18) : 49 49. Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya? Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". Orang-orang yang bertaqwa tidak akan pernah mau melakukan sesuatu yang sia-sia apalagi dosa. Dia tidak pernah mau menggunakan segala sesuatu, baik fisiknya maupun hal-hal yang lain yang bisa membuat Allah Ta'ala murka kepadanya. Dia akan selalu berusaha melakukan ketaqwaan-ketaqwaan. Karena apapun yang dia lakukan pasti dilihat oleh Allah Ta'ala dan disaksikan pula oleh Malaikat serta makhluq-makhluq yang lain dan semuanya akan menjadi saksi diakhirat kelak. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami selalu ingat bahwa sesungguhnya Engkau telah menugaskan Malaikat-Mu untuk mengawasi amal ibadah dan amal sholeh kami. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan menyerahkan catatan amalnya hanya kepada Allah Ta'ala. Dia yakin tidaklah mungkin apabila melakukan amal akan dicatat buruk oleh Malaikat, dan tidaklah mungkin apabila melakukan kejahatan akan dicatat baik oleh Malaikat. Sehingga dia selalu berusaha untuk melakukan amal dan meninggalkan dosa, walaupun tidak ada orang yang melihatnya. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu apabila melakukan kebaikan ingin sekali diketahui oleh orang banyak. Sedangkan apabila melakukan keburukan (dosa) selalu bersembunyi dari orang banyak karena tidak ingin diketahui. Akan tetapi bagi orang-orang yang bertawakkal tidak mempermasalahkan hal itu. Apakah manusia mengetahui atau tidak, yang penting Allah Ta'ala mengetahui dan dicatat oleh Malaikat-Nya. Dengan kata lain orang-orang yang bertawakkal hanya bersembunyi dari pandangan Allah Ta'ala. Karena dia yakin percuma saja bersembunyi dari pandangan manusia. Walaupun dia bersembunyi dari pandangan manusia, Allah Ta'ala pasti mengetahui dan malaikat-malaikatNya juga mengetahui. G. Sikap Orang Mukhlis Setelah dia bertawakkal, maka hasil apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala dia terima dengan ikhlas. Apabila didalam hidup ini banyak sekali catatan buruknya (dosanya), kemudian Allah Ta'ala memberikan peringatan, maka peringatan itu dia terima dengan ikhlas. Bahkan dia sangat bersyukur kepada Allah Ta'ala, karena dengan peringatan itulah dia bisa bertaubat dan memperbaiki diri. Karena catatan amal buruk (dosa) akan menyengsarakan manusia kelak diakhirat, dan catatan amal buruk itu bisa terhapus dengan cara bertaubat dan memperbaiki diri. (mengganti keburukan dengan kebaikan). Oleh sebab itu apabila sang hamba tidak mau bertaubat atas segala dosa dan kesalahan yang telah dia lakukan, maka dengan sangat terpaksa Allah Ta'ala akan memberikan penyakit (peringatan) kepadanya. Dengan harapan apabila sang hamba mau bersabar dengan penyakit (peringatan) tersebut, maka Allah Ta'ala mempunyai alasan untuk mengampuninya. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Khobir Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan merasa bahwa seluruh tindakan-tindakanya diketahui oleh Allah. Sehingga dalam menjalani kehidupan selalu takut kepada Allah. Dan terhadap orang-orang yang lalai kepada Allah, pasti akan selalu ia ingatkan. Hal ini dilakukan karena adanya keyakinan yang kuat bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia Allah pasti mengetahuinya. Disamping itu ia tidak akan pernah bersembunyi dari pandangan manusia, ia akan tegar dalam memegang kebenaran Allah dan tidak ada perasaan khawatir dan takut kepada selain Allah. Ia tidak akan lemah hanya karena cercaan manusia. Dan ia akan selalu berlaku keras kepada orang-orang yang munafiq. I. Contoh do’a bagi yang ingin mneladani Asma’ Al Khobir Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia agar mereka dapat meyakini bahwa segala sesuatu perbuatan yang mereka lakukan, sesungguhnya Engkau pasti mengetahuiNya. Karena Engkau telah menugaskan kepada dua Malaikat yaitu Raqib dan Atit untuk mencatat semua amal manusia, sehingga mereka dapat melakukan kebaikan dan menghindarkan diri dari kejahatan.